Penyimpangan Tingkah Laku Remaja

Posted: Februari 13, 2012 in Uncategorized

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

 

Penyimpangan Tingkah Laku Remaja

      A.  Latar Belakang

      B.  Definisi

C.  Asal Mulanya Perilaku Menyimpang pada Remaja

D   Kenakalan  Remaja                     

  1. Hipoaktivisme
  2. Kultisme
  3. Penyalahgunaan Narkoba (Narkotika dan Obat) dan Alkoholisme
  4. Psikopatologi pada Remaja
  5. Penyimpangan Seks dan Remaja
  6. Penanganan terhadap Perilaku Menyimpang Remaja

    

Kesimpulan

Daftar Pustaka

 

               Penyimpangan Tingkah Laku Remaja

 

  1. Latar Belakang

Masa remaja adalah masa yang rawan oleh pengaruhpengaruh negatif, seperti narkoba, kriminal, dan kejahatan seks. Namun, harus diakui bahwa nasa remaja adalah masa yang amat baik untuk mengembangkan segala potensi positif yang mereka miliki seperti bakat, kemampuan dan minat. Selain itu, masa remaja adalah masa pencarian nilai-nilai hidup. Oleh karena itu, sebaiknya mereka diberi bimbingan agama agar menjadi pedoman hidup baginya.

 

  1. Definisi

Salah satu upaya mendefinisikan penyimpangan perilaku remaja dalam arti kenakalan anak (juvenile delinquency) dilakukan oleh M. Gold dan J. Petronio (Weiner,1980: 497) yaitu sebagai berikut:

“Kenakalan anak adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman”.

Dalam definisi tersebut faktor yang penting adalah unsur pelanggaran hukum dan kesengajaan serta kesadaran anak tu sendiri tentang konsekuensi dari pelanggaran itu.

Secara keseluruhan,semua tingkah laku yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku dalam masyarakat (norma agama, etika, peraturan sekolah dan keluarga, dan lain-lain) dapat disebut sebagai perilaku menyimpang. Akan tetapi, jika penyimpangan itu terjadi teradap norma-norma hukum pidana barulah disebut kenakalan.

Saparinah Sadli (1977) mengistilahkan kelainan tingkah laku itu dengan perilaku menyimpang. Menurutnya, perilaku menyimpang adalah tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma sosial karena cap terhadap suatu tingkah laku menyimpang atau tidak ditentukan oleh norma-norma yang dianut masyarakat temp

At anak tinggal.

 

C. Asal Mulanya Perilaku Menyimpang pada Remaja

Cara menerangakan asal mula kenakalan remaja seperti tersebut diatas oleh Jensen digolongkan kedalam teori sosiogenik, yaitu teori-teori yang mencoba mencari sumber penyebab kenakalan remaja pada faktor lingkungan keluarga dan masyarakat. Termasuk dalam teori sosiogenik ini antara lain adalah teori Broken Home dan teori penyalahgunaan anak.

Secara umum dapat dikatakan bahwa teori sosiogenik tersebut diatas, teori-teori tentang asal mula kelainan perilaku remaja dapat digolongkan dalam dua jenis teori yang lain, yaitu teori psikogenik dan teori biogenic. Teori psikogenik menyatakan bahwa kelainan perilaku disebabkan oleh faktor-faktor didalam jiwa remaja itu sendiri, misalnya oleh OedipoesComplex. Sedangkan teori biogenic menyatakan bahwa kelainan perilaku disebabkan oleh kelainan fisik atau genetik (bakat).

Philip Graham lebih mendasarkan teorinya pada pengamatan empiris dari sudut kesehatan mental anak dan remaja. Ia juga membagi faktor-faktor penyebab itu kedalam dua golongan, yaitu:

  1. Faktor lingkungan:
    1. Malnutrisi (kekurangan gizi)
    2. Kemiskinan di kota-kota besar
    3. Gangguan lingakuan (polusi, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, dll)
    4. Migrasi (urbanisasi, pengungsian karena perang, dll)
    5. Faktor sekolah (kesalahan mendidik, faktor kurikulum, dll)
    6. Keluarga yang tercerai berai (perceraian, perpisahan yang terlalu lama, dll)
    7. Ganguan dalam pengasuhan oleh keluarga:
  1. kematian orang tua
  2. orang tua sakit berat atau cacat
  3. hubungan antaranggota keluarga tidak harmonis
  4. orang tua sakit jiwa
  5. kesulitan dalam pengasuhan karena pengangguran, kesulitan keuangan, tempat tinggal tidak memenuhi syarat,dll.
  1. Faktor Pribadi
    1. faktor bakat yang mempengaruhi temperamen (menjadi pemarah, hiperaktif, dll)
    2. cacat tubuh
    3. ketidakmampan untuk menyesuaikan diri.

 

D. Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja yang dimaksud disini adalah perilaku menyimpang dari dan atau melanggar hukum. Jensen membagi kenakalan remaja menjadi empat jenis:

  1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dll.
  2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dll.
  3. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak orang lain: pelacuran, penyalahgunaan obat. Di Indonesia mungkin dapat juga dimasukkan hubungan seks sebelum menikah.
  4. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka, dan sebagainya.

 

E. Hipoaktivisme

Kenakalan remaja dan beberapa kelainan perilaku remaja yang lain biasanya dikaitkan dengan agresivitas atau hiperaktivisme (aktivitas yang terlalu berlebihan) dari remaja. Akan tetapi, disisi lain ada sebagian remaja yang sangat kurang aktivitasnya (hipoaktivisme). Mereka yang tergolong hipoaktif ini biasanya lambat

dianggap sebagai gangguan karena meeka umumnya tidak mengganggu orang lain.orang mungkin hanya mengira anak itu pemalu atau pendiam.

Keadaan hipoaktif ini disebabkan oleh gangguan jiwa. Salah satu gangguan yang dimaksud adalah skizofrenia. Memang tidak semua jenis skizofrenia ditandai dengan pasivisme. Bahkan ada yang cirinya adalah hiperaktivisme dan agresivisme. Akan tetapi, jenis-jenis skizofrenia tertentu seperti autisma (berdian diri terus, tidak peduli dengan keadaan sekitarnya) dan kotatonia (berdiam diri dengan posisi tubuh yang aneh selama berjam-jam).

Gangguan lain yang bisa menunjukkan sindrrom hipoaktivisme adalah gangguan emosi (afektif) yang dinamakan manik-depresif. Berbeda dari skizofrenia, penderita manik-depresif masih mempunyai rasio yang berfungsi dengan baik. Akan tetapi perasaannya terus-menerus terganggu.

Jika pada gangguan afektif, hipoaktivisme yang terjadi berlangsung lama dan terus-menerus, ada jenis gangguan jiwa lain dengan cirri hipoaktivisme juga, yaitu neurotik depresif. Jika hipoativisme itu tidak tergolong gangguan-gangguan mental tersebut, maka kemungkinan lainnya adalah rendahnya taraf  kecerdasan.

Gejala hipoaktif ini bisa juga timbul pada remaja karena faktor sifat bawaan (trait). Orang-orang yang berbakat pendiam atau pemalu atau tertutup dengan sendirinya akan tampak lebih hipoaktif dari remaja-remaja lainnya.

 

F. Kultisme

Salah satu bentuk reaksi ketidakpuasan remaja terhadap kondisi lingkungan sosialnya adalah menarik diri ke dalam dirinya sendiri sehingga ia tampil sebagai orang yang pendiam, pemalu atau pemurung, yang dalam bentuk gangguan kejiwaannya bisa menjadi skizofrenik autisma dan katatonik.

Penarikan diri seperti itu dikatakan oleh Merton sebagai salah satu reaksi dari keadaan anomie, yaitu keadaan lingkungan sosial seakan-akan tidak ada lagi patokan atau tolok ukur yang pasti untuk menyatakan tingkah laku mana yang benar dan salah. Pada remaja yang keadaan kepribadiannya masih penuh gejolak dan goncangan, keadaan anomie ini lebih mudah terjadi. Salah satu norma yang dapat dijadikan pelarian remaja dari kondisi anomie ini adalah agama. Menurut H. Wagner, agama buat remaja menyajikan kerangka moral untuk membandingkan tingkah laku seseorang. Sebagai kerangka moral agama bisa merupakan stabilisator tingkah laku.

“Kultisme” (cultism) adalah kepercayaan terhadap kult (cult) tertentu. Kult menurut R.Enroth dkk, adalah sejenis agama atau kepercayaan baru karena ia menyimpang dari ortodoksi yang mapan.

Karena kultisme biasanya menggangu masyarakat dan merugikan diri orang yang bersangkutan sendiri, kiranya perlu diketahui ciri-ciri orang atau remaja yang mulai atau sudah terlibat kult sehingga bisa diambil tindakan-tindakan pencegahan atau perbaikannya. Ciri-ciri itu adalah:

  1. Tidak dapat lagi berpikir mandiri. Segala sesuatu selalu dikaitkan dengan ajaran agama (kult) nya.
  2. Kesetiaan yang luar biasa terhaap agama (kult) sehingga bisa mengingkari atau memusuhi anggota keluarga sendiri.
  3. Melakukan acara keagamaan yang sangat terinci dan berkepanjangan, termasuk menampilkan tingkah laku yang sangat khas dan kaku sebagaimana diharuskan oleh kult nya.
  4. Semua hal tersebut diatas dilakukan atas dasar ketakutan akan akibat yang akan terjadi bilamana melanggar aturan kult.

 

G. Penyalahgunaan Narkoba (Narkotika dan Obat) dan Alkoholisme

Narkoba dan minuman yang mengandung alkohol mempunyai dampak terhadap sistem syaraf manusia yang menimbulkan berbagai perasaan.

Yang penting dijaga menurut Gonzales adalah perkembangan jiwa para remaja itu sendiri, sebab bagaimanapun juga remaja yang jiwanya stabil tidak akan menyalahgunakan narkoba atau alhkohol sekalipun mereka telah pernah mereasakannya. Pengedaran narkoba dan alkohol telah telah meluas dalam masyarakat, tetapi, sebagian kecil saja yang benar-benar terlibat dan mereka inilah yang mengalami kesulitan, masalah atau gangguan kepribadian. Jadi, penyelesaian masalah penyalahgunaan narkoba adalah masalah pemeliharaan kesehatan mental.

Salah satu penyebab kesulitan tersebut adalah harga diri (self-esteem) atau gengsi yang terlalu tinggi. Salah satu faktor lain adalah kepercayaan terhadap agama.

Pada hakikatnya, memang faktor kepribadian yang menyebabkan terlibatnya seseorang dalam penyalahgunaan obat atau atau alkohol tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan jalinan dari beberapa faktor kepribadian.

 

H. Psikopatologi pada Remaja

Gangguan kejiwaan atau psikopatologi (psiko = jwa, patologi = kelainan atau gangguan) yang terdapat pada remaja seperti skizofrenia, episode depresif dan retardasi mental.

Adapun jenis-jenis gangguan jiwa itu pada remaja menurut Kohen dan Raz yang meninjaunya dari teori psikoanalisis (1971) adalah:

  1. Gangguan neurosis karena konflik Oedipoes yang tak terselesaikan dengan baik.
  2. Takut kepada sekolah (school phoia) sehingga cenderung membolos atau mencari alasan untuk tidak sekolah.
  3. Keterasingan, merasa ditelantarkan oleh orang tua, tdak dapat mengidentifikasi peran seksualnya sendiri, kurang mempunyai citra seksual tentang dirinya sendiri.
  4. Kenakalan anak yang disebabkan oleh reaksi neurotik.
  5. Retardasi mental.
  6. Gangguan organis yang bisa mengganggu fungsi kepribadian.
  7. Gangguan kepribadian ( gangguan jiwa) yang berat.
  8. Kenakalan anak yang tidak disebabkan oleh reaksi neurotik.

 

I. Penyimpangan Seks dan Remaja

1. Onani

Kelainan perilaku seks ini biasanya dilakukan oleh laki-laki yang merasa ingin memenuhi kebutuhan seksnya, dilakukan dengan cara mengeluarkan air mani oleh tangan. Onani dapat mengakibatkan lemah syahwat dan bahkan melemahkan sperma sehingga tidak sanggup membuahi sel telur wanita. Efek samping lain dari onani yaittu efek fisikologisnya dimana pelaku sering merasa berdosa. Apabila seseorang telah mengalami gangguan psikis karena merasa berdosa, akan timbul kelainan-kelainan tingkah laku pada dirinya seperti tidak mampu menyesuaikan diri, mengucilkan diri, dan bahkan seolah-olah dia tidak mempunyai harapan untuk hidup layak seperti orang lain.

 

2. Homoseksual (homosexuality)

Kelainan perilaku seks yang dilakukan oleh dua individu yang berjenis kelamin sama, laki-laki dengan laki-laki dinamakan homoseksual, wanita dengan wanita disebut lesbian.

Sebab-sebab terjadinya homoseks ialah:

a. Adanya ketidakseimbangan hormon seks (sex hormonal imbalance)

b. Pengaruh lingkungan

Untuk penyembuhan penderita seperti ini yang terpenting ialah adanya kesadaran dari penderita tersebut untuk memperbaiki diri, disamping itu, pengobatan atau terapi dapat membantu proses penyembuhan

.

3. Pelacuran

Pengertian pelacuran ialah perilaku seks bebas yang dilakukan secara tidak sah menurut hukum dan agama yang terjadi dalam masyarakat. Pria yang melakukan hal tersebut dengan pelacur wanita disebut pria hidung belang. Untuk mengatasi pelacuran dengan jalan menampung kegiatan mereka ditempat yang dikhususkan belum pasti dapat menyelesaikan masalahnya. Yang terpenting dalam usaha menanggulangi pelacuran dengan jalan mengetahui sebab-sebab terjadinya, meningkatkan sanksi atau hukum bagi si pelakunya dan menyalurkan wanita-wanita tersebut, kepada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.

Sebab-sebab terjadinya pelacuran ialah:

a.Rendahnya taraf kehidupan ekonomi rakyat

b.Banyaknnya pengaruh orang-orang mewah sehingga mendorong orang untuk memiliki kemewahan

c.Kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis baik dalam  pergaulan, ekonomi atau hubungan seks yang tidak memuaskan

d.Meningkatnya film dan VCD porno,gambar-gambar cabul dimasyarakat

dimana penggemarnya sebagian besar adalah remaja

 

4.Pornografi Dan Pornoaksi

Merupakan hal-hal yang berusaha untuk merangsang dorongan seks  dengan tulisan atau gambar.Hal ini bisa berakibat tensis moral dikalangan remaja, terutama jika dasar-dasar agama kurang sekali dilatihkan sejak kecil. Pada era kemajuan informasi dan teknologi modern,pornografi makin maju peasat.VCD porno dan situs porno di internet amat membahayakan remaja yang menontonnya,sehingga dapat meningkatkan kejahatan seksual.

Sedangkan istilah pornoaksi adalah aksi atau perbuatan yang merangsang orang lain terutama lawan jenis.Aksi itu dipertontonkan pada hiburan seperti: tarian, nyanyian dan drama.Pada penampilannya penyanyi misalnya membuka bagian-bagian tubuhnya yang merangsang seperti bagian dada dan paha.Mengenai upaya membasmi segala bentuk pornografi dan pornoaksi selalu terbentuk karena undang-undang tentang pornografi belum juga ada.Karena terdapat pro dan kontra dalam hal tersebut.

 

5.Bestiality

Mengadakan hubungan seks dengan binatang.Ini sering terjadi di daerah-daerah pertanian dimana jumlah wanita agak kurang.Kadang –kadang dianggap bahwa hal ini dapat disamakan dengan onani atau masturbasi.

 

6.Gerontoseksual

Kecenderungan untuk melakukan hubungan kelamin dengan wanita-wanita yang lebih tua atau lanjut usia.Hal ini mungkin disebabkan pertimbangan-pertimbangan ekonomi atau karena keinginan wanita-wanita itu untuk memperoleh kepuasan seks dari yang lebih mudah dari suaminya.

 

7.Incest

Hubungan kelamin terjadi antara 2 orang di luar nikah sedangkan mereka adalah berkerabat dekat sekali.Hal ini sering terjadi pada masyarakat yang taraf kehidupannya amat rendah dan broken home.Disebabkan kurang ditemukan disiplin dan norma-norma kehidupan sebagai pegangan dalam kehidupan berkeluarga.

 

Pencegahan Perilaku Menyimpang pada Remaja ada beberapa faktor:

a.Faktor lingkungan sosial

Remaja juga ditandai dengan perubahan sosial yang cepat (khususnya di kota besar dan daerah-daerah yang sudah terjangkau sarana dan prasarana komunikasi dan perhubungan) yang mengakibatkan kesimpangsiuran norma.

b.Faktor keluarga

Perkembangan pribadi remaja yang optimal yang perlu diusahakan melalui pendidikan,yang pada hakikatnya merupakan proses pengalihan norma-norma.

c.Faktor pendidikan(sekolah)

Dalam rangka pendidikan ini yang sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa remaja adalah lingkungan sekolah.

Selanjutnya, untuk mengurangi kemungkinan terjadinya perilaku menyimpang,bisa dilakukan usaha untuk meningkatkan kemampuan remaja dalam bidang-bidang tertentu sesuai dengan kemampuan dan bakatnya masing-masing, misalnya dalam bidang teater, musik, olahraga, baca puisi dan lain-lain.Dalam rangka pengembangan potensi pribadi inilah adakalanya diperlukan bimbingan psikolog atau ahli pendidikan,khususnya untuk mengetahui bakat dan kemampuan remaja dan merencanakan kariernya bersama remaja itu sendiri dan orang tua atau keluarganya.

 

      J. Penanganan terhadap Perilaku Menyimpang Remaja

Menurut Rogers (Adams  dan Gullotta, 1983: 56-57) ada lima ketentuan yang harus dipenuhi untuk memenuhi remaja yaitu:

a. Kepercayan

Remaja itu harus percaya kepada orang yang mau membantunya (orang tua,guru,psikolog,ulama dan lain-lain).Ia haris yakin bahwa penolong ini tidak akan membohonginya dan bahwa kata-kata penolong ini memang benar adanya.

b. Kemurnian Hati

Remaja harus marasa bahwa penolong itu sungguh-sungguh mau membantunya tanpa syarat.

c. Kemampuan mengerti dan menghayati ( Emphaty) perasaan remaja dalam posisi yang berbeda antara anak dan orang dewasa (perbedaan usia,perbedaan status,perbedaan cara berpikir dan sebagainya),sulit bagi orang dewasa(khususnya orang tua)  untuk berempati pada remaja karena setiap orang akan cenderung untuk melihat segala persoalan dari sudut pandangannya sendiri dan berdasarkan penilaian dan reaksinya pada pandangannya itu sendiri.

d. Kejujuran

Remaja mengharapkan penolongnya menyampaikan apa adanya saja,termasuk hal-hal yang kurang menyenangkan.

e. Mengutamakan Persepsi Remaja Sendiri

Sebagaimana halnya dengan semua orang lainnya, remaja akan memandang  segala sesuatu dari sudutnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s